Ada satu kalimat sederhana yang muncul dari salah satu peserta Cascade Training Skills for Future oleh Terala Foundation dan British Council di Universitas YARSI, Jakarta: “Sei du selbst” — jadilah diri sendiri.
Kalimat itu ditulis oleh Ari Nugroho, peserta dengan disabilitas mental/psikososial. Di tengah pelatihan yang berlangsung selama empat hari, 27–30 April 2026, kalimat itu terasa seperti rangkuman kecil dari sesuatu yang lebih besar. Bagi sebagian anak muda penyandang disabilitas, belajar keterampilan masa depan tidak selalu dimulai dari CV, wawancara kerja, teknologi digital, atau rencana karier. Kadang, ia dimulai dari ruang yang membuat mereka merasa cukup aman untuk menjadi diri mereka sendiri.
Ruang itu mempertemukan peserta dengan ragam pengalaman dan kebutuhan akses yang berbeda-beda. Ada peserta Tuli, daksa, low vision, totally blind, peserta dengan ikterus lamellar, serta peserta dengan disabilitas mental/psikososial dan ADHD. Laporan pelaksanaan mencatat bahwa peserta tidak hanya berbeda dalam ragam disabilitas, tetapi juga dalam kemampuan bahasa, literasi, komunikasi, dan kebutuhan pendampingan. Beberapa peserta Tuli, misalnya, membutuhkan dukungan komunikasi yang lebih intensif karena tingkat pemahaman bahasa dan perbendaharaan BISINDO yang berbeda-beda.

Dari luar, pelatihan ini mungkin tampak seperti pelatihan keterampilan biasa. Ada sesi pengenalan diri, komunikasi, kerja kelompok, keamanan digital, pembuatan CV, simulasi wawancara, dan refleksi masa depan. Namun, di dalam ruang itu, setiap aktivitas menjadi peristiwa kecil yang memperlihatkan bagaimana inklusi bekerja dalam praktik.
Ketika peserta bermain game, mereka tidak hanya mencairkan suasana. Mereka sedang belajar menyapa, mengenali, dan berkomunikasi dengan teman dari ragam disabilitas lain. Ketika peserta membuat CV, mereka tidak hanya mengisi riwayat pendidikan dan pengalaman. Mereka sedang belajar melihat bahwa pengalaman hidup, keterampilan, dan kekuatan diri mereka juga layak ditulis. Ketika peserta berdiskusi tentang keamanan digital, mereka tidak hanya membahas internet, media sosial, atau data pribadi. Mereka sedang belajar bahwa ruang digital pun harus bisa mereka masuki dengan aman, kritis, dan percaya diri.
Garis besar hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan ini memberi pengalaman yang positif bagi peserta. Peserta merasa memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, lebih memahami cara melindungi diri di ruang digital, serta lebih percaya diri untuk terlibat dalam diskusi dan menjelaskan kembali pembelajaran yang mereka terima. Pelatihan juga dinilai cukup mampu mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas, meskipun masih ada catatan penting untuk memperkuat aksesibilitas, bahasa, materi, dan metode fasilitasi ke depan.
Namun, perubahan yang paling terasa tidak hanya bisa dibaca dari evaluasi, tetapi juga muncul dari cerita-cerita kecil peserta. Di balik meningkatnya pemahaman tentang keamanan digital, ada peserta Tuli yang mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman sehari-hari menggunakan aplikasi seperti GetContact untuk mengenali dan menghindari risiko di ruang digital. Di balik meningkatnya kepercayaan diri, ada peserta yang mulai berani berbicara dalam kelompok, mencoba simulasi wawancara, dan menyebut keterampilan yang sebelumnya mungkin tidak mereka lihat sebagai kekuatan.

Rimba Damenna Manik, peserta Tuli, menangkap dua hal sekaligus dari pelatihan ini. Ia merasa modulnya bagus dan menarik, terutama karena ada game dan aktivitas berbagi dalam kelompok. Namun, ia juga memberi catatan bahwa bahasa modul belum sepenuhnya sesuai dengan bahasa Tuli atau bahasa ibu peserta Tuli. Ia berharap bahasa dibuat lebih dasar, visual diperbanyak, dan contoh dibuat lebih konkret. Masukan ini penting karena menunjukkan bahwa inklusi bukan hanya tentang menghadirkan peserta Tuli di ruangan, tetapi juga tentang memastikan bahasa, visual, tempo, dan cara menjelaskan benar-benar dapat mereka akses.
Dari peserta Netra dan low vision, cerita serupa muncul dalam bentuk yang berbeda. Dian Hendriany menyebut tugas, game, dan aktivitas membuat surat cinta untuk pendukung acara sebagai hal yang berkesan. Namun, ia juga mengusulkan agar tugas menulis dibuat dalam bentuk Google Form karena menulis manual dapat menjadi hambatan bagi peserta low vision. Ahmad Hasanudin, peserta totally blind, menyampaikan bahwa pelatihan menambah kepercayaan diri, wawasan, dan pemahamannya terhadap teman dari ragam disabilitas lain. Namun, ia juga mengingatkan bahwa materi visual perlu dilengkapi dengan alternatif yang dapat didengar atau disentuh.
Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa pelatihan berjalan bukan hanya sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang saling belajar. Peserta belajar dari fasilitator, tetapi fasilitator juga belajar dari peserta. Modul diuji bukan hanya di atas kertas, tetapi melalui pengalaman tubuh, bahasa, penglihatan, pendengaran, energi, fokus, dan kebutuhan akses yang nyata.

Sintikhe Putri Evatasya Nabunome, peserta Tuli, menyebut workshop ini sangat menarik karena banyak permainan yang seru. Ia merasa materi yang disampaikan membuatnya lebih sadar untuk terus maju dan berkembang demi masa depan. Amiradhana Salsabila, peserta dengan ADHD, merasa pelatihan ini beragam dan fleksibel sesuai kebutuhan, sambil memberi masukan agar peserta ADHD mendapat handout materi. Mohammad Taufiq Iskandar Widjaya, peserta low vision, menyebut latihan komunikasi, simulasi wawancara, pembuatan CV, promosi diri untuk lowongan kerja online, relasi, dan saling menghargai sebagai bagian yang menambah kepercayaan dirinya.
Di sinilah cerita baik dari proses ini terasa kuat. Kebaikan itu tidak hanya muncul dalam bentuk kegiatan yang berjalan lancar, tetapi juga dalam keberanian untuk mendengar catatan peserta. Game bisa menjadi jembatan belajar, tetapi instruksinya harus sederhana. Bahwa visual bisa membantu peserta Tuli, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya pintu masuk bagi peserta Netra. Bahwa menulis surat bisa menjadi aktivitas reflektif yang menyentuh, tetapi formatnya perlu fleksibel bagi peserta low vision atau peserta yang kesulitan menulis manual. Bahwa pelatihan empat hari bisa membuka rasa percaya diri, tetapi beberapa kebutuhan seperti CV, wawancara, public speaking, AI, kewirausahaan, manajemen waktu, dan climate skills tetap membutuhkan pendampingan lanjutan.
Pelatihan ini juga memperlihatkan bahwa inklusi bukan kondisi yang langsung selesai ketika acara dimulai. Inklusi adalah proses yang terus dinegosiasikan. Ketika fasilitator memperlambat tempo bicara, ketika juru bahasa isyarat perlu memahami konteks modul, ketika buddy Tuli membantu menjelaskan ulang kepada teman lain, ketika pendamping membantu peserta totally blind tanpa mengambil alih pilihan mereka, ketika peserta ADHD membutuhkan pegangan materi agar bisa mengikuti alur dengan lebih nyaman.
Karena itu, salah satu pembelajaran terpenting dari Cascade Training S4F adalah bahwa pelatihan inklusif tidak cukup dinilai dari jumlah peserta penyandang disabilitas yang hadir. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mereka memahami instruksi? Apakah mereka memiliki cara untuk berpartisipasi? Apakah mereka bisa menyampaikan kebutuhan aksesnya? Apakah mereka merasa dilihat sebagai subjek belajar, bukan sekadar penerima bantuan?
Dari ruang pelatihan itu, jawabannya mulai dibangun pelan-pelan. Belum sempurna, tetapi bergerak. Ada peserta yang pulang dengan lebih percaya diri. Ada peserta yang lebih memahami cara menjaga diri di ruang digital. Ada peserta yang mulai tahu bagaimana menyusun CV dan mempersiapkan wawancara. Ada peserta yang merasa lebih memahami teman dari ragam disabilitas lain. Ada pula catatan-catatan kritis yang justru menjadi bekal penting untuk membuat toolkit S4F lebih aksesibel dan lebih kuat ke depan.
Pada akhirnya, cerita baik dari pelatihan ini bukan hanya tentang program yang berhasil dilaksanakan. Cerita baiknya adalah tentang sebuah ruang belajar yang berani diuji oleh pengalaman peserta. Ruang yang tidak hanya bertanya, “materi apa yang sudah diberikan?”, tetapi juga, “siapa yang bisa mengaksesnya?”, “Siapa yang masih tertinggal?” dan “Apa yang perlu diubah agar semua orang bisa ikut tumbuh?”

Mungkin itulah makna keterampilan masa depan yang paling mendasar. Bukan hanya keterampilan untuk bekerja, menggunakan teknologi, atau berbicara di depan umum. Tetapi keterampilan untuk membangun ruang yang membuat anak muda penyandang disabilitas dapat mengatakan: saya ada, saya bisa belajar, saya punya masa depan, dan saya tidak harus meninggalkan diri saya sendiri untuk menjadi bagian dari dunia itu. **TY


